Jumat, 06 Mei 2011
Mari, berpura Pura Tuli
Barangkali kita pernah mendengar tentang seorang tabi’in shalih yang bernama Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli). Mengapa ia dijuluki si tuli, padahal pendengarannya normal dan ia bukan seorang tuli. Dikisahkan, suatu hari seorang wanita pernah datang kepada Hatim. Ia bermaksud menanyakan sesuatu kepadanya. Namun di tengah ia mengutarakan pertanyaan, wanita itu tiba tiba buang angin (kentut) sehingga membuatnya sangat malu. Hatim tau perasaan yang ada di balik tamunya. Dia tidak ingin tamunya bertambah malu karena pendengarannya. Karena itu mencoba menutupinya dengan mengatakan, ‘keraskan suaramu’. Ia berkata demikian karena berpura pura tuli. Akibatnya, wanita itu senang dan tidak salah tingkah. Ia mengira Hatim tidak mendengarnya.
Sejak itu, selama wanita itu masih hidup,hampir lima belas tahun, Hatim berpura pura memiliki pendengaran yang kurang normal. Sehingga tak ada seorang pun bercerita pada wanita tadi bahwa Hatim tidak tuli. Sesudah wanita tersebut meninggal dunia, barulah Hatim menjawab dengan mudah kepada siapapun yang bertanya kepadanya. Tapi, karena sudah terbiasa dengan perkataan itu, ia selalu berkata kepada setiap orang yang bertanya kepadanya, “Bicaralah dengan keras!” itulah sebabnya dia dipanggil Hatim Al Ashamm (Hatim si tuli).
Sebenarnya, apa kunci sikap yang bisa kita teladani dari apa yang dilakukan Hatim Al Ashamm dalam hal ini? Para ulama banyak menyebutnya dengan istilah ‘aadaab taghaaful’ artinya etika berpura pura tidak tahu terhadap kekeliruan yang tidak disengaja dilakukan. Sikap mentolerir keterpelesetan orang lain. Sikap membuka ruang memaklumi kesalahan yang tidak direncanakan, apalagi di tutup tutupi. Tentu bukan kesalahan fatal yang berakibat buruk pada masayarakat luas.
Sikap taghaaful ini, ternyata banyak sekali dipegang oleh para shalihin terdahulu. Bahkan ketika Fudhail bin Iyadh ditanya tentang etika taghaaful, ia mengatakan beberapa patah kata saja. “Ash shaf-hu ‘an atsaraatil ikhwaan”, memberi toleransi terhadap kekeliruan yang tidak disengaja oleh saudara. Itu artinya. Siapakah diantara kita yang tidak pernah terpeleset salah? Selama kita berinteraksi dengan orang lain, pasti kita pernah melakukan salah, disengaja maupun tidak. Disinilah inti perkataan Fudhail, tokoh tabi’in yang begitu dikenal sebagai ahli ibadah, bahwa masing masing kita memang dianjurkan memilki ruang toleransi terhadap kesalahan yang mungkin dilakukan oleh siapapun termasuk diri kita sendiri. Kesalahan yang tentunya tidak fatal. Kesalahan yang tentu bukan kekeliruan yang direncanakan dan berulang dilakukan. Kesalahan yang mungkin terjadi dalam situasi tertentu dan bahkan tidak disengaja.
Imam Syafi’I rahimahullah mengatakan, “Terimalah alasan alasan orang yang datang kepadamu dengan meminta maaf dan menyampaikan alasan. Baik saat itu motif dalam perkataannya benar, atau dia berbohong. Karena sesungguhnya engkau tidak tau sesuatu yang tidak lahir (ghaib).”
Dalam hidup ini, seharusnya, kita memang harus taghaaful dari kesalahan tidak disengaja dan kecil yang terjadi dari orang lain. Lupakan saja perasaan kita yang muncul saat itu terjadi. Karena sebenarnya, syaitan lah yang selalu membangkitkan ingatan dan menguatkan pikiran terhadap peristiwa yang bisa memunculkan kebencian. Syaithan merasa nikmat menebarkan kebencian dalam diri orang-orang beriman. Seperti peristiwa tragis yang terjadi pada zaman Rasulullah saw, dimana syaithan berhasil mengelabui orang-orang di kalangan Anshar, meniup rasa iri hati dalam hati mereka terhadap orang orang Muhajirin. Syaithan membangkitkan ingatan tentang hari hari sebelum kedatangan kaum Muhajirin. Syaithan memunculkan kembali kekuatan ingatan tentang beberapa sya’ir yang berisi ajakan perang. Syaithan menghadirkan kembali peristiwa perang yang pernah terjadi diantara mereka. Sampai sampai mereka saling menghunus pedang dan siap melakukan pertarungan. Lalu Rasulullah saw bergegas datang ke tengah tengah mereka seraya mengatakan, “Apakah kalian mau mengikuti ajakan jahiliyah, sedangkan saya masih ada diantara kalian?”
Ini artinya, mengingat rasa sakit dari kesalahan saudara adalah bagian dari kerja syaithan. Mengingat ingat luka yang pernah dilakukan dari saudara sesama muslim . Memikirkan terus menerus kesalahan dan keterpelesetan seseorang. Melupakan kebaikan yang dilakukan seseorang. Menghapus semua kebaikan yang pernah dilakukan seseorang. Berlaku tidak seimbang dalam menilai orang. Semuanya merupakan bagian dari usaha syaithan yang termasuk dari seruan jahiliyah.
Mari, tutup celah syaithan mempermainkan hati dan pikiran yang selalu ingin menyuburkan kebencian diantara orang orang beriman. Mengubur bisiskan syaithan yang selalu menggambarkan keburukan orang lain begitu luar biasa, tapi disisi lain, syaithan juga selalu mengecilkan kesalahan yang dilakukan diri sendiri, meski kesalahan itu berulang kali kita lakukan.
Betapa indahnya bila kita berusaha menghidupkan kembali etika taghaaful. Berpura pura tidak mengetahui ketergelinciran yang mungkin dilakukan saudara. Menerima alasan dan permohonan maafnya apabila ia mengajukan alasan dan maaf. Mengangkat sisi kebaikannya, tidak hanya keburukannya semata. Seperti halusnya hati Atha bin Rabbah, seorang ulama dan ahli hadist. Seseorang pernah datang kepadanya dan menyampaikan sebuah hadist Rasulullah saw. Atha bin Rabbah rahimahullah diam dan mendengarkan hadist itu dengan baik, seolah ia belum pernah mendengarnya kecuali dari mulut pemuda itu. Padahal, hadist itu sudah dihapal dan didengarnya, sejak sebelum pemuda itu lahir. (Tarikh Madinah Dymasyq, 4/104).
Diambil dari majalah Tarbawi
Kolom Ruhaniyat
Edisi 250
Kamis, 05 Mei 2011
Inisiatif Melakukan Kebaikan
Ketika Abu Bakar ra mengetahui kematian Rasulullah saw. Ia tiba-tiba saja berdiri dan berpidato. Katanya, “Wahai manusia semua. Barang siapa yang menyembah Muhammad, kini ia telah meninggal dunia. Dan barang siapa yang menyembah Allah swt, maka sesungguhnya Allah swt hidup dan tidak pernah mati.” Ia lalu membaca kutipan firman Allah swt surat Ali Imran ayat 44 yang artinya, “Dan tidaklah Muhammad kecuali ia seorang Rasul sebagaimana di masa masa sebelumnya. Apakah bila ia mati lalu terbunuh kemudian kalian kembali ke belakang (menjadi kafir). Dan barangsiapa yang kembali ke belakang, itu tidak akan memberi bahaya apa pun kepada Allah. Dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.”
Sebenarnya, Abu Bakar bisa saja diam dan duduk saat mendengar informasi duka yang sangat menyedihkan itu. Abu Bakar sangat mungkin bahkan mengurung diri di rumahnya, lalu menangis atas perpisahannya dengan sang Nabi saw yang begitu mulia akhlaknya. Apalagi, Rasulullah saw sudah menyebut Abu Bakar sebagai kekasihnya. Abu Bakar sekali lagi, bisa saja melakukan kegiatan yang mungkin untuk sementara tidak terkait dengan orang lain, lantaran kesedihan dan kedukaannya yang mendalam dengan meninggalnya Rasulullah saw. Tapi itu semua tidak dilakukan Abu Bakar. Ia justru melakukan sebuah aksi yang luar biasa untuk menyelamatkan umat Islam saat itu dari perpecahan dan persengketaan.
Mari kita buka kembali lembar sejarah, menjelang terjadinya kecamuk perang di medan Uhud. Saat itu, Al Yaman (ayah Khudzaifah) dan Tsabit bin Qais diminta menetap di kota Madinah, lantaran usia mereka yang sudah renta. Setelah kepergian pasukan Islam ke medan Uhud, salah seorang mereka berkata, “Jangan diam, apa yang sedang engkau tunggu? Demi Allah tidak ada lagi yang tersisa untuk salah seorang kita karena usianya yang sudah renta, kecuali melakukan serangan sebagaimana keledai yang sedang kehausan. Bagaimana kalau kita ambil pedang dan kita susul Rasulullah saw ke bukit Uhud? Semoga dengan demikian, Allah swt memberikan kita karunia mati syahid.” Tak lama setelah itu, keduanya berangkat ke medan perang. Mereka menyusul Rasulullah saw dan turut terjun di dalam kecamuk perang Uhud.
Sayangnya, akibat dahsyatnya peperangan Uhud kala itu, tubuh Al Yaman tersayat beberapa kali oleh pedang pasukan islam. Hingga akhirnya ia jatuh dan meninggal, di tangan pasukan Islam. Tentu tidak dengan sengaja. Khuzaifah bin Al Yaman yang menyaksikan kondisi itu berteriak, “ayahku… ayahku…” singkat cerita, Rasulullah memdberikan santunan kepada Khudzaifah atas kematian ayahnya, tapi santunan itu disalurkan lagi untuk kaum muslimin. Sedangkan Tsabit bin Qais, akhirnya gugur syahid berperang saat berperang melawan orang-orang musyrik Makkah.
Sirah perjalanan para pendahulu umat ini begitu penuh nilai. Allah swt bahkan menggambarkan kondisi para sahabat itu dalam surat Ali Imran ayat 133, “Wa Saari’uu ilaaa maghfiratin… muttaqin.” Atau firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 148, “Fastabiqulkhairat..”
Rasulullah juga mengajarkan kita untuk tidak menunda dan menyegerakan kebaikan yang mungkin kita lakukan. “Segeralah melakukan tujuh amalan, apakah engkau akan menunggu masa fakir yang dilupakan, masa kekayaan yang merongrong, sakit yang merusak, tua yang membelenggu, mati yang sudah pasti atau dajjal yang merupakan puncak kejahatan, atau kiamat yang sangat pedih dan pilu” (HR. Turmudzi)
Suatu hari, Umar bin Khatab ra melihat sekelompok orang yang sedang duduk-duduk di salah satu tiang masjid setelah shalat jum’at. Umar bertanya, “Siapa kalian?” mereka menjawab, “Kami ini orang-orang yang bertawakal kepada Allah”. Mendengar jawaban itu, Umar bin Khatab ra marah dan mengusir mereka sambil megatakan, “jangan sekali lagi salah seorang kalian duduk santai tidak mau mencari rizki, lalu mengatakan “Ya Allah berilah rizki kepadaku, padahal ia tau langit takkan menurunkan hujan emas dan perak. Dan ia tahu bahwa Allah swt berfirman, “Bila usai shalat maka menyebarlah di muka bumi., carilah keutamaan dari Allah dan berdzikirlah yang banyak agar kalian beruntung” (QS. Al Jumu’ah 10)
Semoga Allah merahmati Imam Ahmad bin Hambal yang tidak mau berhenti dan duduk. Seorang ulama yang dalam lembar sejarah tentangnya disebutkan sangat aktif bergerak dan berfikir. Sampai sampai Muhammad bin Ismail Ash Shaigh salah seorang murudnya bercerita, “Dalam sebuah perjalanan , kami bertemu Imam Ahmad bin Hambal sedang berjalan dan sandalnya dipegang di tangannya, menandakan ia sudah sangat letih. Ayahku lalu membantu menghimpun pakaian Imam Ahmad sambil mengatakan, “Ya Abdu Abdillah, apakah engkau tidak malu melakukan ini?” sampai kapan engkau berjalan bersama mereka?” Jawab Imam Ahmad pendek, “Sampai mati” (Ibnul Qoyyim, Miftah Darussaadah) Jawaban pendek yang menunjukan keluarbiasaan semangat sang Imam.
Kematian. Mari waspada dan hati-hati terhadapnya. Kita hanya berharap semoga ia tidak datang saat kita dalam kondisi buruk. Kita hanya bisa berusaha agar ia tidak hadir menjemput ketika kita ada di titik yang bathil.
Sekarang, mari bergerak dan melakukan amal yang bisa membahagiakan kita. Bahagia, saat catatan amal kita di tampilkan di akhirat.
Diambil dari malalah Tarbawi
Kolom Ruhaniyat
Edisi 248
Rabu, 20 April 2011
Kucing Di Pojok Teras Masjid ^^
Bertemu dengan berbagai macam kucing memang memiliki kenikmatan tersendiri. Saya sangat suka dengan binatang berbulu lembut (kecuali ulat bulu :D). seperti halnya saat saya mengunjungi sebuah sekolah untuk menemani siswa siswa saya mengikuti UN (sebagai tambahan keterangan, sekolah saya menginduk pada sekolah lain dalam melaksanakan UN)
Di sela sela menunggu, saya pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat dhuha. Saat di dalam masjid terdengar suara anak kucing, “miawww… miawww” mungkin seperti itulah suaranya ^^. Setelah saya telusuri suara itu, ternyata di pojok teras masjid tersebut ada empat anak kucing bersama ibunya dalam sebuah kardus. Ooo lucunya :D.
Dua hari setelah itu saya bertemu kembali dengan kucing kucing ini di depan perpustakaan sekolah. Ibunya begitu kurus dan tak terurus. sampai mukanya cemong. Tp ia tetap menyusui keempat anaknya. Subhanallah… Allah menganugrahkan kasih sayang itu pada semua makhluk-Nya, tak terkecuali pada binatang. Hingga seekor hewan pun mengerti arti kasih sayang itu.
Nah ini lah photo anak kucing itu. Saya tidak sempat mengambil gambar ibunya dan satu anak kucing lainnya. Inilah gambar mereka saat bermain main J
Tiga Sungai Untuk Orang Berdosa
Allah SWT telah membuat tiga sungai untuk membersihkan tubuh orang orang yang berdosa. Jika ketiga sungai itu belum cukup maka Allah akam membersihkannya di sungai Jahannam.
Pertama, sungai taubatan nasuha yaitu melepaskan segala perbuatan dosa dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi
Kedua, sungai hasanat yaitu kebaikan kebaikan yang akan mengubur semua keburukan
Ketiga, sungai mushibah adzimah yaitu bencana atau ujian yang besar yanga akan melebur setiap dosa.
Apabila Allah menghendaki suatu kebaikan kepada hamba-Nya, Ia akan memasukannya kedalam salah satu sungai tersebut hingga ia akan datang kepada-Nya di hari kiamat dengan tubuh yang suci dan bersih
(Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 249 kolom Qobasat-Petikan
Kebahagiaan Dunia-Akhirat
Dia yang memiliki lima hal di bawah ini akan bahagia dunia-akhirat:
Pertama, perbanyak membaca laa ilaaha illallah Muhammadarasulullah
Kedua, ketika ditimpa musibah mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun. Wa laa haula wa laa quwwata illabillahi’aliyyiladzim
Ketiga, ketika mendapat nikmat mengucapkan Alhamdulillah hirabbil ‘alamin
Keempat, ketika akan melakukan sesuatu mengucapkan Bismillahirrohmanirrahim
(Abdullah bin Amr bin ‘Ash)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 246 kolom Qobasat-Petikan
Empat Jenis Lautan
Pertama, lautan dosa yaitu kecenderungan nafsu kepada keinginan yang tidak sesuai dengan syara
Kedua, lautan syahwat yaitu dorongan untuk mencari kenikmatan jasmaniah
Ketiga, lautan umur yaitu kematian
Keempat, lautan penyesalan yaitu di alam kubur
(Umar Bin Khatab ra)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 245 kolom Qobasat-Petikan
Golongan Ahli Surga
Pertama, orang fakir yang menanggung nafkah keluarganya
Kedua, perempuan yang suaminya ridha terhadapnya
Ketiga, istri yang bersedekah dengan maharnya kepada suaminya
Keempat, anak yang kedua orang tuanya ridha kepadanya
Kelima, orang yang bertaubat dengan kesalahannya
(Umar bin Khatab ra)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 242 kolom Qobasat-Petikan
Karunia Yang Membahagiakan
Ada empat karunia yang jika diberikan kepadanya, maka dia telah diberikan kebaikan dunia dan akhirat: hati yang pandai bersyukur, lisan yang slalu berdzikir, tubuh yang mampu bersabar dari segala macam cobaan, dan istri yang tidak suka membuat (suami) nya susah dengan dirinya dan pada hartanya
(HR Thabrani)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 241 kolom Qobasat-Petikan
Empat Faktor Kesempurnaan
Abu Bakar As Shidik berkata bahwa ada empat hal yang akan sempurna bila didukung empat hal lain.
Pertama, kesempurnaan shalat adalah dengan dua kali sujud sahwi bila ada bagian yang terlupa
Kedua, kesempurnaan puasa Ramadhan adalah dengan zakat fitrah
Ketiga, kesempurnaan ibadah haji adalah dengan membayar fidyah
Keempat, kesempurnaan iman adalah dengan jihad fii sabilillah
(Abu Bakar ra)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 240 kolom Qobasat-Petikan
Selasa, 19 April 2011
Senin, 18 April 2011
Empat Musibah Membawa Nikmat
Ada empat musibah yang dirasakan membawa nikmat.
Pertama, musibah itu terjadi bukan pada agama kita
Kedua, musibah tersebut tidak lebih berat daripada musibah yang telah menimpa diri kita
Ketiga, musibah itu tidak menghalangi untuk memperoleh ridha Allah
Keempat, musibah yang darinya kita bisa mengharapkan pahala Allah
(Umar bin Khatab ra)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 239 kolom Qobasat-Petikan
Lima Tanda Orang Bertaqwa
Ada lima tanda orang yang bertaqwa
Pertama, tidak suka bergaul kecuali dengan orang orang yang dapat memperbaiki agamanya
Kedua, jika mendapat musibah besar dalam urusan duniawi, dia menganggapnya sebagai hukuman atas kesalahan nya yang terdahulu
Ketiga, jika mendapat musibah dalam masalah agama meskipun sedikit dia bersedih
Keempat, dia tidak suka memenuhi perutnya dengan makanan yang halal sekalipun karena khawatir tercampur dengna yang haram
Kelima, dia selalu memandang orang lain lebih baik dari dirinya dalam hal agama
(Utsman bin Affan ra)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 238 kolom Qobasat-Petikan
Enam Hal Yang Tidak Dimiliki Enam Perkara
Pertama, tidak ada ketenangan bagi orang yang hasud
Kedua, tidak ada harga diri bagi pendusta
Ketiga, tidak ada kecakapan bertindak bagi orang yang bakhil
Keempat, tidak ada amanah bagi orang yang diperbudak
Kelima, tidak ada kehormatan bagi yang buruk budi pekertinya
Keenam, tidak ada penolakan bagi ketentuan Allah
(Ahnaf bin Qais rahimahullah)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 237 kolom Qobasat-Petikan
Enam Wasiat Ahli Zuhud
Seorang yang ahli zuhud memberi wasiat agar seluruh kehidupan yang dijalani penuh manfaat.
Pertama, jika orang orang sibuk dengan dunia maka sibukkan diri dengan akhirat
Kedua, jika melihat orang orang sibuk memperindah tampilan fisik mereka maka percantiklah batin kita
Ketiga, jika melihat orang orang sibuk dengan perkebunan maka sibukkanlah diri dengan memakmurkan kuburan
Keempat, sibukkan diri dengan mengabdi kepada Allah
Kelima, sibukkan diri dengan keburukan diri sendiri
Keenam, jadikanlah kehidupan di dunia ini sebagai taman pertanian yang akan menghantarkan engkau ke pohon besar di akhirat kelak.
(Ibrahim bin Adham rahimahullah)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 235 kolom Qobasat-Petikan
Lima Perkara Yang Dicintai dan Dilupakan
Rasulullah mengatakan bahwa ada lima perkara yang dicintai dan di lupakan oleh umat rasulullah.
Pertama, mereka mencintai dunia dan akan melupkaan akhirat
Kedua, mereka mencintai kehidupan (dunia) dan melupakan kematian
Ketiga, mereka mencintai rumah yang mewah dan melupkaan kubur
Keempat, mereka mencintai harta benda dengan melupakan hisab (pertanggungjawaban)
Kelima, mereka mencintai makhluk-Nya dengan melupkaan Khaliq nya, yaitu Allah
(HR At Thabrani)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 232 kolom Qobasat-Petikan
Sabtu, 16 April 2011
Empat Wasiat Ali bin Ali Thalib
Ali berkata, “Wahai manusia, jagalah wasiatku. Jika kamu memegangnya erat erat dengan segala kesiapan sehingga kamu dapat melaksanakannya, kamu tidak akan mendapat keuntungan yang lebih besar darinya.
Pertama, hendaklah kamu tidak berharap kecuali kepada Tuhan mu
Kedua, hendaklah kau tidak takut kecuali kepada dosa dosa mu
Ketiga, hendaklah kamu tidak malu untuk belajar jika tidak tau
Keempat, hendaklah orang yang alim berkata “Aku tidak tahu” apabila dia memang tidak tau
(Ali bin Abi Thalib)
Diambil dari majalah Tarbawi edisi 233 kolom Qobasat-Petikan
Apa Kabarmu, Diriku?
Suatu hari, Abu Musa Al Asy’ari ra, datang tergopoh-gopoh menghampiri Abdullah bin Mas’ud ra. Ia menceritakan, bahwa ia baru saja melihat banyak orang di masjid, duduk melingkar dalam satu halaqoh. Mereka sama-sama bertakbir, bertahmid, bertasbih dan membaca kalimat-kalimat thayibah lainnya. Ibnu Mas’ud pun segera ke masjid menemui orang-orang itu. Begitu sampai, Ibnu Mas’ud bertanya kepada mereka, “ Apa yang sedang kalian lakukan?”
Mereka menjawab, “ Wahai abu Abdirrahman, ini adalah batu-batu kerikil. Kami sedang bertakbir, bertahmid dan bertasbih dan menghitungnya dengan batu kerikil ini.” Lalu Ibnu Mas’ud berkata, ”Mengapa kalian tidak menghitung dosa –dosa kalian saja? Aku jamin, jika dosa-dosa kalian yang kalian hitung, niscaya kebaikan-kebaikan kalian tidak akan hilang.” (Riwayat Ad Darimi)
Kisah ini merupakan informasi tentang pentingnya melakukan perenungan diri, sesuatu yang barangkali banyak dilupakan oleh orang yang mengaku beriman, termasuk kamu wahai diriku.
Perjalanan hidup ini amatlah panjang. Bahkan sangat panjang. Ia membutuhkan jeda sesaat untuk memastikan apakah ada yang harus diperbaiki, diluruskan, atau diubah total, agar seorang manusia tidak tertipu dan tersesat jalan sehingga akan terhambat keselamatannya untuk sampai ditujuan, nun jauh di akhirat sana.
Jeda waktu itu tidak lain adalah perenungan diri, alias intropeksi. Ini sangat penting, karena itu Rasulullah saw mengingatkan, “Orang yang cerdas itu adalah orang yang menghitung dirinya dan berbuat untuk sesuatu yang ada setelah mati”(HR. tirmidzi)
Wahai diriku, sudah lama rasanya aku tidak menyapa dirimu, menyetop langkahmu untuk sekadar bertanya dan mengingatkan batas-batas perjalanan hidupmu., sampai akhirnya aku membaca kembali hadist Nabi di atas.
Bukan aku malu tidak disebut cerdas oleh nabi, tapi karena ini memang penting untuk diriku dan perlu untuk aku lakukan untukmu. Maka di saat ini, aku ingin bertanya kepadamu tentang banyak hal, karena perasaanku yang mulai terusik dengan hal-hal yang tidak patut kamu lakukan untuk sekarang ini dan seterusnya.
Tentang Hubunganmu Dengan Allah
Aku sadar, bahwa tidak ada yang paling penting dalam hidup ini kecuali menjaga hubungan baik dengan Allah swt., dalam keadaan apapun. Sebab, Dialah yang telah menciptakan aku dan juga semua manusia. Kepada-Nya lah aku akan kembali. Dan hanya bagi-Nya lah aku mengabdi, beramal dan beribadah. Tidak untuk yang lain.
Aku pun tahu kalau engkau, wahai diriku, juga menyadari itu. Karena itu, dulu engkau begitu dekatnya. Paling tidak, jika aku bandingkan dengan keadaanmu sekarang. Waktu itu, apa yang kau pinta rasanya selalu terkabul. Tidak ada kesulitan yang berarti dalam hidupmu. Engkau minta kepada-Nya agar diluluskan dalam ujian, kau pun lulus. Engkau mohon agar dimudahkan dalam mencari pekerjaan, pertolongan-Nya pun datang demikian cepat. Engkau mengeluhkan penyakit mu kepda-Nya, tak lama kemudian kau pun kembali sehat. Pendeknya, apa yang kau pinta selalu ada jawabannya.
Tetapi kini, ketika kau merasa terdesak dan benar-benar membutuhkan pertolongan-Nya, kau terlihat malu menghadap-Nya. Enggan meminta kepada-Nya. Kau bahkan tampak tidak yakin permintaanmu akan terkabul. Bukan lantaran engkau berburuk sangka pada-Nya. sama sekali bukan. Sebab aku tahu dan kau pun meyakini itu, bahwa Allah senantiasa mendengarkan doa hamba-Nya, siapa pun dia. Lagi pula, engkau sangat hafal firman-Nya, “Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. Artinya kalau kamu yakin Allah mengabulkan doa-doamu, maka seperti itulah yang Dia akan berikan.
Aku ingin menjelaskan kepadamu, meskipun sesungguhnya kamu sudah tahu jawabannya. Rasa malu itu hadir, tidak lain karena kau mencoba tahu diri bahwa keadaanmu saat ini berbeda dengan yang dulu. Dulu kau rajin beribadah, sekarang sering melupakan-Nya. Kau seakan ingin Allah mengabulkan permintaanmu, namun kau jauh dari-Nya.
Wahai diriku, engkau memang tidak sampai meninggalkan shalat. Namun, shalat yang kau kerjakan seperti tidak memberikan efek dan makna bagimu. Itu karena engkau melakukannya tanpa kekhusyuan. Terlalu banyak problem yang menggelayut dipikiranmu. Ada urusan pekerjaan yang menumpuk, ada ini dan itu. Belum lagi engkau sekarang memang jarang ke masjid. Terkadang ketika adzan subuh berkumandang, engkau justru semakin merapatkan selimutmu. Padahal mesjid hanya sepuluh langkah dari rumahmu. Engkau sekarang bahkan terbiasa dengan menunda-nunda shalat, yang dulu sangat takut kau lakukan.
Engkau bukannya tidak tahu, kalau semakin rajin dan khusyuk shalatmu maka problem-problem hidupmu akan selesai dengan sendirinya. Tetapi kenapa problem-problem itu justru mengalahkan kualitas dan kuantitas ibadahmu. Sering, dalam shalat berjamah terkadang aku menertawaimu. Sebabnya, shalat yang kau kerjakan, rakaat demi rakaatnya berlalu tanpa terasa. Bahkan, kadang kala imam mengucapkan salam tanda shalat telah berakhir, kau tiba-tiba terhenyak, kembali dari petualangan pikiranmu dan melihat kenyataan bahwa kaupun telah selesai melakukan shalat.
Puasa di bulan ramadhan pun memang tetap kau jalankan. Tapi sayang kadang yang kau puaskan hanya perutmu saja. Sementara, mata, telinga, lisan dan hatimu tak mampu menahan godaan. Shalat tarawih yang biasa tidak pernah engkau tinggalkan, rasanya tidak sampai sepertiganya yang kau jalankan. Begitu juga dengan tilawah, kau bahkan tidak bisa mengkhatamkan bacaan, meski hanya sekali.
Ibadah-ibadahmu yang lain banyak yang tidak maksimal. Kau mengerjakannya hanya karena ingin melepaskan kewajiban. Maka wajar jika amal ibadahmu tidak mendekatkanmu kepada Allah.
Ketika Allah mengujimu dengan satu musibah, engkau tidak bisa bersabar. Di saat engkau berusaha dan berikhtiar, selalu tidak disertai dengan sikap tawakal yang sempurna. Jika kau berdiri menghadap-Nya, tak ada adab kesopanan yang kau sertakan. kau memang terlihat jauh dari Allah swt, dari sisi apa saja.
Aku memang sudah lama tidak memperdulikan keadaan dirimu. Karena itu tidak heran kalau dirimu tidak seperti dulu lagi. Hari ini aku ingin bertanya kepadamu, apakah kau menjadi diri yang puas dengan prestasi amalmu yang tak pernah meningkat ini? Mudah-mudahan jawabanmu “tidak”. Sebab, aku sangat berharap kau bisa berubah menjadi lebih baik. Minimal seperti dulu, dimana engkau merasakan dekatnya pertolongan Allah atas dirimu.
Tentang Hubunganmu Dengan Al Qur’an
Akhir-akhir ini, aku juga melihatmu sangat jauh dari Al Qur’an. Padahal Al Qur’an itu adalah sarana berkomunikasi dengan Allah yang paling mudah dan efektif. Tidak perlu modal dan tenaga. Dulu, kemana-mana disaku bajumu atau ditasmu selalu terselip mushaf ukuran kecil. Itu karena engkau memang rajin membacanya. Atau kalau pun engkau tidak membacanya minimal kau jadikan ia sebagai pengingatmu ketika terlupa dan hampir terjebak dalam dosa.
Kini, engkau telah terbiasa pergi tanpa mushaf di sisismu. Sebab posisinya di hatimu telah terganti oleh telepon selulermu. Jika kakimu melangkah keluar rumah tanpa membawa mushaf, tak ada lagi kata penyesalan. Namun, jika telepon selulermu yang tertinggal, kau akan panic tak terkira. Engkau kini benar-benar mementingkan berkomunikasi dengan manusia., daripada kebutuhan mu berkomunikasi dengan Rabb-mu sendiri.
Biasanya, di bulan Ramadhan engkau mampu menamatkan tilawah lebih dari sekali. Namun di ramadhan yang lalu, jangankan sekali. setengah kalipun tidak. Aku bingung, apakah engaku yang bosan dengan Al Qur’an atau justru Al Qur’an yang bosan denganmu. Kalau engkau yang bosan, mudah-mudahan dalam waktu yang dekat engkau akan segera mengakrabinya kembali. Tetapi kalau Al qur’an yang bosan aku tidak tahu, kemana lagi engkau mencari pedoman hidup. Sekarang saja engkau sudah sedemikian sesat, apalagi jika Al Qur’an menjauh darimu. Celaka engkau wahai diriku!
wahai diriku, marilah kita berdoa, agar Allah menyatukan hati kita dengan kalam-Nya yang terhimpun didalam Al Qur’an itu. “Ya Allah aku meminta kepada-Mu dengan semua nama yang Engkau miliki, yang Engkau namakan diri-Mu dengannya, atau engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk ciptaan-Mu, atau yang Engkau khususkan dalam rahasia ilmu di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al Qur’an ini sebagai penyejuk hatiku, penghilang rasa sedihku, dan penghapus duka jiwaku.
Tentang Hubunganmu dengan Sesama Manusia
Wahai diriku, Rasulullah tercinta pernah bersabda kepada istrinya, Aisyah ra “Wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang kedudukannya paling buruk disisi Allah di hari kiamat, adalah orang yang ditinggalkan orang lain karena takut pada kejahatannya.”(HR. Bukhari)
Engkau mungkin masih ingat hadist ini. Karena aku sering mendengarmu menyampaikannya kepada orang lain, mengajarkannya kepada anak-anakmu, murid-muridmu, dan kepada siapa saja yang meminta nasihatmu tentang kewajiban menjaga hubungan baik sesama manusia.
Pertanyaanku, bagaiamana dengan dirimu sendiri? Maksudku seperti apa muamalahmu selama ini dengan orang lain. Bagaimana sikapmu dengan para tetangga? Adakah engkau sudah menjenguk mereka ketika mereka sedang sakit? Sudahkan engkau membantu temanmu yang sedang kesusahan? Seperti apa pula baktimu kepada orang tua? Mereka adalah orang-orang yang ada di sekelilingmu, yang wajib engkau pergauli dengan baik.
Beberapa hari yang lalu, sekirtar jam lima subuh, kala engkau melangkah keluar rumah, seorang tetanggamu sedang kesusahan, sakit payah dan digotong ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit. Namun engkau hanya melihatnya sambil menutup pagar, kemudian berlalu tanpa ada sedikit pun ada sapa dan tanya. Sempatkah engkau berpikir seandainya engkau yang dalam kondisi itu sedang tetanggamu acuh denganmu, seperti apakah perasaanmu?
Diriku, engkau juga jarang memperhatikan temanmu yang sedang kesusahan. Ketika seorang diantara mereka hendak meminjam uang darimu karena kebutuhan yang sangat medesak, kau katakana padanya sedang tidak punya uang. Padahal aku tahu, waktu itu engkau masih punya simpanan uang. Engkau sulit sekali membantu orang.
Satu hari, ketika seorang meminta sumbangan mengucapkan salam di depan pagar rumahmu, aku melihatmu berpura-pura tidak mendengarnya. Gorden yang sedikit terbuka pun segera kau tutup pelan-pelan agar orang itu segera bisa berlalu. Tidak hanya sampai disitu kelakuanmu. Aku bahkan merasakan hatimu berbisik, “Ah, paling untuk dirinya sendiri.”
Seburuk itukan engkau sekarang, wahai diriku? Bukankah engkau hapal banyak dalil tentang keutamaan bersedekah. Apakah engkau mengira bahwa itu semua ditujukan untuk orang lain, sementara dirimu tidak? Jika memang engkau tidak ingin bersedekah, maka berkatalah yang jujur. Jangan pula menambah keburukanmu dengan prasangka yang tidak baik.
Kepada orang tuamu, engkau pun tidak memperlihatkan baktimu. Kau jarang sekali menjenguknya, apalagi meringankan kesulitannya. Bahkan untuk sekedar menanyakannya lewat telepon, itupun enggan engkau lakukan. Engkau banyak meminta perhatiannya untukmu, tetapi sebaliknya, kau sering melupakannya. Yang ku tau dari kebaikanmu yang tersisa adalah doamu kepada Allah untuk mereka. Padahal engkau tahu, bahwa bakti kepada orang tua akan mengundang keberkahan, serta menyibak kesulitan.
Wahai diriku, engkau seolah mampu mengatasi masalahmu sendiri, karena itu kau merasa tidak butuh dengan orang lain. Engkau abaikan mereka dalam hidupmu. Engkau hanya bergaul dengan orang, yang kamu yakin akan menguntungkan dirimu dari sisi materi. Tinggalkanlah sifat ini, karena hanya kan merugikanmu suatu hari nanti. Perbaikilah hubunganmu dengan sesama manusia. Berkasih sayang lah dengan mereka, agar Allah dan para malaikat-Nya yang ada di atas langit sana, pun mengasihimu.
Tentang Kondisi Hatimu
Bagaimana pula dengan kondisi hatimu saat ini? Ini pertanyaanku selanjutnya. Aku menanyakan ini karna kita sama-sama paham, bahwa hatilah yang paling menentukan kebaikan dan keburukan seseorang.
Hati itu wahai diriku, sangat mudah dihinggapi sejumlah penyakit, yang disebut maksiat-maksiat hati. Penyakit ini tidak tampak oleh mata dan tak ada yang dapat mengetahuinya selain Allah swt. Penyakit ini juga tak dapat diintai oleh syetan sehingga ia bersorak riang karna kejelekannya. Dan malaikat pun tidak dapat mengetahuinya sehingga dia catat keburukan keburukannya. Yang dicatat oleh mereka hanyalah apa yang mereka saksikan dari amal perbuatan seorang hamba. Mereka sama sekali tidak mengetahui niat dan maksud seseorang, juga penyakit-penyakit yang ada di dalam hati, kecuali jika Allah menghendakinya.
Saat ini aku mulai mengkhawatirkan hatimu. aku takut ia telah terserang penyakit-penyakit itu. Sebab tanda-tandanya telah sudah banyak kurasakan, dan aku yakin engkau juga merasakan itu. Karenannya aku ingin mengungkapkan beberapa fakta agar aku bisa tahu sejauh mana kebenaran dugaanku ini.
Kemarin, engkau baru saja tertimpa musibah. dan aku melihatmu terduduk lesu sambil meneteskan air mata. Aku tidak menyalahkan sikapmu itu, karena wajar bagi orang yang terkena musibah untuk berduka. Yang aku sesalkan, kenapa engkau tidak sanggup menjaga lidahmu dari mengucapkan kata-kata ketus yang menyalahkan orang lain. Bahkan engkau merasa bahwa Allah tidak berpihak denganmu. Apakah ini pertanda bahwa hatimu sudah mulai bimbang atas kekuasaan dan kehendak Allah yang berlaku atas semua hamba-Nya? “Apakah kamu juga telah lupa dengan ayat, kebajikan apapun yang kamu peroleh, adalah dari sisi Allah, dan keburukan apapun yang menimpamu, itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (QS. An Nisa: 79)
Sekarang ini aku juga melihatmu sering iri dan dengki kepada saudara atau sahabatmu karena kelebihan harta yang mereka peroleh, atau pangkat yang mereka raih, atau jabatan yang mereka capai. Lupakah engkau bahwa itu semua hanya kesenangan dunia yang bersifat sementara dan akan segera lenyap? Mengapa dengan kesalihan orang lain justru engkau tidak pernah berkaca? Aku tidak pernah melihatmu iri dengan orang yang banyak menghapal Al Quran, atau dengan orang yang rajin shalat malam, atau dengan orang yang tekun berpuasa sunnah. Tidak pernah.
Masih banyak kejanggalan lain yang kurasakan di hatimu. Ada rasa bangga yang berlebihan, ada kesombongan, ada riya, penyakit yang paling berbahaya itu juga ada. Terlalu panjang jika aku beberkan semua. Karena itu mari berdoa, diriku. Kita memohon kepada Allah agar hati kita dijernihkan kembali, dari segala noda dan maksiat. “Ya Allah, Dzat yang membolak balikan hati. tetapkanlah hati kami dalam agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu”.
Tenatang Sikapmu dengan Dunia dan Segala Kemewahannya
Wahai diriku, ijinkan aku bertanya pada dirimu untuk yang terakhir kalinya: tentang kesibukanmu mencari dan mengumpulkan harta dan kemewahan dunia, yang akhir-akhir ini selalu membuatku risau.
Dalam banyak hal, engkau memang selalu terlihat bersemangat. Termasuk mencari nafkah. Aku tidak mempermasalahkan yang ini, karena seorang mukmin memang harus selalu tampil semangat. Akan tetapi yang kutemukan sekarang, gaya hidup dan cara pandangmu terhadap perhiasan-perhiasan dunia itu sudah mulai bergeser. Engkau menganggap bahwa segala sesuatu hanya bisa diukur dan diraih dengan harta. Ketenangan hati dengan harta. Kebahagiaan keluarga dengan harta. Pangkat, jabatan, dan kekuasaan juga dengan harta. Itu yang kini aku khawatirkan.
Aku juga mulai melihatmu dihinggapi gejala wahn, penyakit yang sangat di khawatirkan Nabi saw menimpa kaumnya. Engkau sangat mencintai harta dan amat takut kehilangannya, sehingga membuatmu terlalu irit dan pelit. Engkau juga sudah meniru gaya hidup orang-orang yang jauh dari agama, yang dulu kau seru orang-orang untuk tidak terjebak dalam lingkaran mereka.
Pertanyaanku, apakah salah jika engkau memilih hidup sederhana meskipun engkau berpunya? Apakah engkau khawatir mitra-mitra bisnismu atau lawan-lawan politikmu akan merendahkanmu? Aku yakin tidak. Bahkan kesederhanaan itu akan melahirkan izzah dan kemapanan iman. Rasulullah bersabda “ Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman.”
Indah sekali ucapan seorang sahabat Amr bin Ash as, “Aku tidak bosan dengan pakaianku selama masih bisa dipakai. Aku tidak bosan dengan hewan tungganganku selama masih bisa membawaku. Dan aku tidak bosan dengan istriku, selama dia berbuat baik kepadaku. Sesungguhnya mudah bosan itu termasuk akhlak yang buruk.”
Renungkanlah ungkapan ini, wahai diriku. Sebab aku melihat matamu cepat silau dengan harta yang banyak. Lekas iri dengan yang diperoleh orang lain. kamu tidak pernah puas dengan apa yang diberikan Allah untukmu, untuk saat ini. Aku melihat dirimu terlalu berharap banyak dari perbendaharaan dunia, padahal beberapa tahun yang lalu kamu terlihat begitu tawadhu, rendah hati dan selalu berpaling dari jebakan dunia. Tapi kini, entah racun apa yang telah mengotori dirimu. Bahkan dalam shalat pun hatimu selalu khawatir jika suatu saat kontrak kerjamu diputus. Seolah-olah hidupmu hanya bergantung disitu saja.
Waspadalah dengan sihir dunia. Janganlah ia sampai menghinggapi hatimu. Cukup letakan ditangan mu saja, agar hidupmu selamat didunia dan di akhirat.
Wahai diriku, banyak peristiwa yang telah kita lewati. Maka rasionalitas kita harus bicara, nurani harus peka. Setiap kejadian memiliki memori, setiap perubahan memiliki makna, hanya bagaimana kia menerima semuanya itu dengan akal dan hati. Kita harus bisa menjadi pengatur yang baik bagi diri kita sendiri. Bukan diatur oleh keadaan yang selalu berubah.
Wahai diriku, kiranya sampai disini pertanyan-pertanyaanku. Ini semua tidak aku maksudkan untuk menyudutkanmu, melainkan karena aku begitu mencintaimu. Sebab, keselamatanmu adalah keselamatanku. Keselamatan kita. Aku tau ada banyak petikan kata yang membuatmu meneteskan air mata. Namun apa guna itu semua, kalau tidak ada perubahan yang bisa kau tunjukan padaku. Satu rakaat shalat witir yang kau biasakan dalam setiap malam yang kau lewat, lebih mulia di sisi Allah daripada kerja kerasmu menghimpun dunia dan segala isinya. Satu lembar Al Quran yang kau baca setiap hari, lebih Allah cintai daripada beribu-ribu lembar rupiah yang kau tumpuk di bank. Sepotong roti yang kau sedekahkan lebih Allah senangi dari segunung emas yang kau kumpulkan. Semoga Allah menyelamatkan diri kita, wahai diriku.
Diambil dari tarbawi edisi 186
Langganan:
Postingan (Atom)





















